Resiliensi Nalitari, Tetap Menari dalam Pandemi

Untitled

Sejak ditetapkan semakin pandemi, penyebaran virus covid-19 telah memberikan dampak di semua aspek kehidupan kita. Salah satu sektor yang terdampak besar ada seni pertunjukan yang mana Nalitari yang bergerak di bidang tersebut. Semua kegiatan seni pertunjukan harus ditunda untuk mendukung upaya bersama memutus rantai penyebaran virus. 

Sebuah pertanyaan pun muncul, apa yang bisa Nalitari lakukan untuk terus berkreasi secara kreatif?

Putri Raharjo, Co-director Nalitari, mencetuskan ide untuk membuat kegiatan menari bersama secara daring dengan tagar #nalitaridirumahaja. Anggota Nalitari diminta untuk menari di rumah masing-masing, merekam tariannya, kemudian mengunggahnya di sosial media pribadi. Unggahan mereka lalu dibagikan ulang oleh Nalitari. Meski tidak langsung dan bertatap muka, Nalitari masih mampu menari bersama. 

Nurul Jamila selaku koreografer Nalitari merancang tema untuk siklus pertama #nalitaridirumahaja yang terdiri dari empat tema yang terinspirasi dengan perubahan pola kehidupan masyarakat selama pandemi. Tema pertama yang berjudul asta, berkaitan tentang bagaimana kita sedang ‘diuji’ dengan adanya pembatasan gerak. Tema kedua, titik balik, berfokus tentang kita dan ruang kita untuk bersentuhan dan berkomunitas yang telah berubah. Tema ketiga berfokus pada bagaimana tema kedua, titik balik, membawa kita untuk melihat kesalahan yang kita buat, melihat bayangan kita di masa lalu, untuk introspeksi. Lalu, tema keempat merupakan penutup dimana kita menyakinkan diri bahwa meski bayangan masa lalu itu nyata, kita masih memiliki harapan dan tujuan hidup yang lebih baik di masa depan. 

Putri Raharjo mengaku bahwa ide ini muncul karena keinginannya untuk terus menari bersama. Ia tidak ingin jarak fisik menghalangi Nalitari untuk terus berkarya. Terlebih lagi, ia tidak ingin anggota Nalitari menjadi ‘jauh’ di saat yang tentunya berat bagi kebanyakan orang ini. Physical distancing memang wajib dilakukan tapi kedekatan emosional dan ikatan komunitas tidak boleh hilang.

Sebagai sebuah organisasi, Nalitari harus bertahan dan kegiatan #nalitaridirumahaja pun menjadi bentuk resiliensi Nalitari bagi para anggotanya dalam situasi pandemi. 

Resiliensi dalam kamus Merriam-Webster berarti an ability to recover from or adjust easily to misfortune or change atau sebuah kemampuan untuk pulih dari atau menyesuaikan dengan mudah atas sebuah perubahan.

Di masa pandemi ini, Nalitari pun mencoba menjadi resilien dan beradaptasi. Latihan tari yang biasanya dilakukan secara tatap muka diubah dengan metode daring. Meski diajak menari dengan cara yang berbeda, anggota Nalitari terlibat secara aktif. Sampai sejauh ini, sudah ada 54 video yang diunggah di akun instagram Nalitari yang dibuat oleh anggota Nalitari. 

Resiliensi Nalitari ini ternyata tidak dapat dilepaskan dari metode tari inklusi yang kami terapkan. Dengan metode inklusi, penekanan bagi penari merasakan sensasi dalam tubuhnya sendiri saat bergerak secara artistik menjadi kunci. Gerak tari yang dilakukan bukanlah hasil dikte melainkan bentuk ekspresi pribadi masing-masing penari. Kini, metode inklusi mampu mengakomodasi kami untuk menari meski sedang berada di lokasi yang berbeda-beda. 

Untitled2

Ibu Daisy dan putrinya Andra adalah anggota Nalitari yang rutin menari dalam kegiatan #nalitaridirumahaja. Mereka sangat senang saat mengetahui ada kegiatan menari ‘bersama’ ini. Menurut Bu Daisy, ada tantangan saat membuat video yakni mengenai lokasi, dimana spot di rumah beliau terbatas dan tidak ada halaman sama sekali. Meski demikian, tantangan itu tidak menjadi masalah dan beliau tetap merasa nyaman untuk berpartisipasi. Bu Daisy mengatakan perasaan nyaman ini muncul karena inklusivitas Nalitari. Bagi beliau, menari di Nalitari itu bisa bebas berkreasi dan bebas berekspresi. Beliau memegang ucapan koreografer Nalitari, Nurul Jamilah, bahwa setiap orang memiliki keindahannya masing-masing. Jadi, tidak perlu khawatir dimana ia menari atau bagaimana ia bergerak, tetap saja Bu Daisy dan Andra menari dengan percaya diri.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s