PBMK 2016: Ruang Berbagi untuk Semua

Ditulis oleh: Moh. Jauhar al-Hakimi, 13 Oktober 2016

news_65940_1476334060
Kelompok tari Nalitari yang beberapa anggotanya adalah anak berkebutuhan khusus saat tampil di hari pertama PBMK 2016, Selasa (11/10). Foro: M. Fatkan/ Panitia PMBK 2016

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Hingga hari kedua Pekan Budaya Masuk Kampus 2016 yang dihelat di plasa Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) telah mementaskan perform lintas usia dan beragam jenis seni pertunjukan yang ada di pelosok Nusantara.

Diawali dengan perform SMPN 4 Gamping-Sleman yang memainkan gamelan kontemporer dan gamelan-karawitan dalam pakem tradisional, dilanjutkan sanggar Tirta Kencana serta SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta dalam panggung gamelan anak. Setelah sanggar Saraswati menampilkan tari kreasi baru Payung, kelompok karawitan Marsudi Ngesti Budaya dari Bodeh, Ambarketawang, Kecamatan Gamping-Sleman menutup sesi pementasan sore hari pertama.

Opening ceremony PBMK 2016 dimulai Selasa (11/10) pukul 19.00 WIB diawali dengan penampilan drum coorp (DC-UMY) yang memainkan mini marching band di atas stage dilanjutkan perform DPC PPMI Kota Yogyakarta dalam perform kolaboratif wayang kulit, tari Baduy(Sleman), serta medley lagu anak Jawa.

Ansambel anak dan remaja yang tergabung dalam AMARI Jogja memainkan orkestra ini dalam kemasan ringan. Perform AMARI menjadi menarik ketika melibatkan interkasi dengan pngunjung saat membagikan mainan anak-anak manuk-manukan dan othok-othok. Seluruh tamu undangan dan pengunjung dibebaskan memilih mainan anak-anak yang dimainkan bersama-sama orkestra ansambel dalam arahan konduktor Fafan Isfandiar.

Tidak kurang Kepala Dinas Kebudayaan Umar Priyono kebagian mainan othok-othok, sementara Rektor UMY, penanggungjawab PBMK, serta perwakilan Kopertis wilayah V DIY memilih manuk-manukan. Dalam aba-aba konduktor, cemuwit suara mainan anak-anak bersautan dengan alunan orkestra dalam waktu beriringan dan bersamaan. Dalam pertunjukan orkestra, ini menjadi tawaran baru dimana orkestra yang selama ini ditampilkan secara berat dan formal, justru menjadi menarik dan hidup ketika mengajak pengunjung berinteraksi bahkan bermain bersama dalam sebuah orkestrasi.

Setelah perform tari kreasi baru dari kelompok tari Nalitari, sebuah projek musik Mantradisi secara apik memainkan repertoar dalam berbagai jenis. Hari pertama PBMK 2016 ditutup dengan penampilan grup band S’BARA yang beranggotakan personil Kepolisian Resor Sleman. S’BARA menghangatkan panggung dengan perform yang rapih yang direspon pengunjung dengan bernanyi bersama di depan panggung. Dari cara bermusik terlihat jelas mereka terlatih. Berbagai jenis musik mulai SKA, ballad, hingga blues dimainkan. Dengan tetap mengenakan seragam PDL-nya, S’BARA menunjukkan sisi humanis aparat kepolisian saat mampu dan mau menghibur dan mengajak penonton berjingkrak-jingkrak bergembira.

Berbagi Panggung untuk Semua

Hari kedua PBMK 2016 Rabu (12/10) menampilkan dolanan anak dari Mekar Melati (Ketingan-Sleman), Kelompok D#Demangan, dan kelompok seni ABK Moyudan-Sleman. ABK Moyudan yang keseluruhan performer-nya adalah anak berkebutuhan khusus menampilkan tari Jaran Kepang dan tari Merak-merakan.  Sebagian besar ABK Moyudan penyandang tuna rungu. Karena keterbasan pendengaran, mereka menari dengan mengikuti irama dari suara nada rendah yang dikeluarkan dari suara drum ataupun bass yang dirasakan melalui rasa detak jantung akibat dentuman suara frekuensi rendah pada jantungnya.

Edi Purwanto pembina kelompok seni ABK Moyudan memberikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan panitia PBMK 2016.

“Ini luar biasa. Ketika banyak event menolak keikutsertaan kami saat kami menawarkan diri untuk meramaikan acaranya, justru PBMK mengundang kami untuk tampil. Panggung ini sangat berarti bagi anak-anak kami,” kata Edi kepada satuharapan.com di sela-sela pementasan anak bimbingnya Rabu (12/10).

Sehari sebelumnya grup tari Nalitari pun menyertakan anak berkebutuhan khusus dalam perform tari kreasi barunya. Meskipun menderita down syndrome, justru ABK di perform Nalitari mendapatkan porsi sebagai pengarep dalam tarian mereka.

Hal senada disampaikan pimpinan kesenian Jathilan Turonggo Mudo Perwiro dan grup angklung Ngadhang Sarini dari Kecamatan Dlingo – Bantul.

Pada sesi panggung tari nusantara dan musik etnik Nusantara, secara bergantian 11 kelompok tari-musik etnik Nusantara menampilkan performnya. Mahasiswa asal Mentawai-Sumatera Barat menampilkan tarian Menangkap Kera. Dilanjutkan perform musik etnik dari kelompok Mabes yang berisi mahasiswa etnomusikologi ISI Yogyakarta.

Ikatan Pelajar-mahasiswa Lombok Utara (IPLU) menampilkan repertoar tari Manuk Belage karya Edi Susanto (mahasiswa jurusan penyajian seni-ISI). Repertoar yang diinspirasi dari tradisi masyarakat Sasak yang gemar menyabung ayam, dituangkan dalam permainan dua Gendang Beleq dalam timpaan permainan gamelan dengan ritme yang cepat.

Pada panggung tari nusantara dan musik etnik Nusantara sesi malam hari berturut-turut menampilkan sanggar Chebbing dari mahasiswa asal Madura, tarian mahasiswa Sawerigading – Sulawesi Selatan, permform musik Bambu Gila dari Sanggar Melanesia, tari kreasi baru yang menggambarkan Pertarungan Gajah dari mahasiswa Laut Tawar – Aceh Tengah, tarian Burung-Padi-padian dari mahasiswa asrama Rahadi Osman Kalimantan Barat yang beberapa waktu lalu menjadi juara dalam Festival Selendang Sutra di Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta, serta musik dan tari dari asrama Bundo Kanduang Sumatera Barat yang membawakan salah satu lagu daerahnya Ayam Den Lapeh.

Dua grup musik etnik melengkapi panggung tari nusantara dan musik etnik Nusantara sesi malam hari. Jatiraga, sebuah grup musik etnik yang menggabung permainan alat perkusi tradisional gendang dan slompret Madura, secara menarik menawarkan sebuah sajian ethnic-jazz-blues. Petikan gitar Gipta yang kental dengan petikan blues ditimpali nada vokalis Zuhdi yang mencapai 2,5 oktaf sempat menyihir penonton saat lengkingan gitar Gipta bersautan dengan teriakan nada tinggi dari Zuhdi dalam dua komposisi Caplokan dan Lampor Kendheng.

Orkes Kampoeng Wangak dari Flores yang memainkan lagu-lagu Flores Nusa Tenggara, pada lagu yang cukup familiar berjudul Maumere Manise dengan iringan dua buah cuk/ukulele, sebuah banjo, sebuah bass tennor tradisional Flores serta jimbe langsung direspon pengunjung yang maju ke depan panggung. Selama perform Wangak, pengunjung tidak beranjak dari depan panggung bergoyang mengikuti ritmr irama yang dimainkan dalam beat yang cukup cepat dan menghibur. Yang menarik dari perform Wangak adalah penggunaan bass tennor tradisional. Alat musik dawai tanpa grip yang terdiri dari tiga nada ini dimainkan dengan cara dipukul pada satu-satunya senar yang ada. Efek pukulan pada dawai tersebut menimbulkan bunyi dalam nada rendah yang cukup keras.

Di bawah panggung, perupa Bambang Widarsono yang beberapa waktu lalu memenagi Perang Sketsa Cepat di Studio Kalahan, bersama perupa Joko Sulistyo, Sallaby Asja, dan Bashori mengajak pengunjung di sela-sela acara melakukan skets bersama. Mendapat respon yang cukup bagus dari pengunjung, Bambang memutuskan untuk melakukan  Skets on the spot hingga acara hari kedua PBMK 2016 tutup panggung.

Melihat perform hingga hari kedua PBMK 2016 yang mementaskan berbagai kesenian lintas generasi, lintas media, lintas bidang seni, lintas jenis pertunjukan, lintas budaya, seolah kita sedang menyaksikan sebuah orkestrasi berbagi panggung untuk semua dan bermain bersama. Bahkan anak berkebutuhan khusus pun mendapat kesempatan untuk mengaksesnya.

Ketika manusia adalah homo ludens, makhluk yang suka bermain, berbagi panggung adalah kegembiraan lain dari permainan itu sendiri.

 

Tautan: http://www.satuharapan.com/read-detail/read/pbmk-2016-ruang-berbagi-untuk-semua

 

Advertisements