Dari Mata Seorang “Intern”

Setelah penampilan pada hari Kamis, Nalitari terus melanjutkan kegiatannya dengan berpartisipasi dalam dua acara edukatif, yaitu workshop pada hari Jumat (27/7) dan sebuah acara ringan berlatih berbahasa Inggris bernama Broken English di hari Minggu (30/7). Workshop yang mereka ikuti adalah sebuah diskusi terbuka tentang manajemen proses berkesenian dengan berfokus pada aspek pembagian tugas di belakang panggung dalam pementasan. Peserta belajar tentang apa saja peran yang dibutuhkan untuk membantu jalannya suatu penampilan, seperti stage manager, kru belakang panggung, penata lampu, dll. Workshop dilanjutkan dengan pembahasan setiap posisi untuk menentukan perlu tidaknya peran tersebut tergantung pada skala acara dan jumlah sumber daya yang tersedia. Diskusi berjalan dua arah dengan adanya sesi sharing tentang perbedaan nama dan fungsi setiap peran antara di Indonesia dan Amerika.

Sebagai seseorang yang belum pernah bekerja dengan organisasi di luar Amerika, kesempatan ini sangat memperluas wawasan saya. Hal ini terasa terutama ketika mendengarkan cerita dan pengalaman antar anggota ketika bekerja dalam membantu penari di belakang panggung, lebih tepatnya membantu mereka tanpa membuat mereka merasa “terkhususkan”. Pada akhirnya, saya belajar bahwa perbedaan tidak selalu terjadi pada kebudayaan atau kebiasaan, namun juga dalam hal ketersediaan sumber daya. Nalitari seringkali membebankan banyak pekerjaan hanya pada satu orang karena sumber daya mereka yang terbatas, namun pertunjukkan-pertunjukkan mereka masih sama mengagumkannya seperti pertunjukan profesional di Amerika. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika semua dilakukan dari hati dan dengan niat–sesuatu yang dilakukan Nalitari selama ini.

Acara yang diikuti oleh Naliari selanjutnya adalah acara diskusi santai yang diawali dengan pemutaran film berjudul “The Unseen Words” oleh Wahyu Utami. Film dokumenter ini berkisah tentang sebuah komunitas tuna netra di Jogja bernama “Distra Budaya” yang senantiasa bersemangat untuk berlatih Kethoprak Jawa (Pentas drama, teater atau wayang orang yang berasal dari Solo). Film ini berfokus pada proses tahapan, persiapan, dan latihan pentas dengan cara yang unik, karena menyesuaikan dengan keterbatasan mereka sebagai penampil. Kegigihan dalam proses persiapan dan penyelesaian masalah oleh anggota dari Distra Budaya juga ditampilkan di dalamnya. Polemik yang ditayangkan tidak spesifik mengenai permasalahan dalam keseharian, namun tentang keadaan ekonomi saat ini yang berdampak pada kehidupan sosial mereka.Salah satu contohnya adalah seorang anggota komunitas yang juga memiliki usaha pijat. Hanya karena keterbatasannya, seringkali usahanya kurang dihargai. Agar tetap laku, dia menghargai jasanya dengan harga 50 ribu rupiah, sedangkan harga jasa pijat lainnya dapat berkisar hingga 250-500 ribu rupiah. Namun di samping ketidakadilan tersebut, dia dan teman-temannya tetap berteguh tekad dan bekerja keras untuk orang-orang yang mereka cintai.

Workshop dan juga acara pemutaran film, keduanya telah membuka pandangan tentang bermacam-macam isu yang normalnya terbutakan oleh kita. Diskusi kemarin membawa banyak sudut pandang untuk dibahas, khususnya ketika Tiara, salah satu pendiri Nalitari menjelaskan “Tujuan kita bukan berusaha mengubah individual, namun mengubah metodenya sehingga tari tersebut dapat diikuti oleh semua orang. Jadi jika ada teman-teman dengan keterbatasan penglihatan yang bergabung, kita akan berproses dengan melibatkan banyak sentuhan, dengan begitu kita bisa berkomunikasi.”

Rasa terima kasih setulusnya disampaikan kepada Nalitari, tidak hanya oleh peserta dalam kedua acara, namun juga oleh publik yang lebih luas, karena telah menggerakkan hati dan pikiran tidak hanya mereka yang menjadi bagian di dalam komunitas ini, tetapi juga mereka yang berkesempatan melihat penampilan Nalitari. Seperti dengan tepat dikatakan oleh salah satu peserta “terima kasih telah menyadarkan kami untuk membiarkan orang lain memberitahu kita tentang apa yang mereka perlukan dan tidak secara impulsif menyimpulkan secara sepihak dan berlagak bahwa kita sudah tau segalanya.” Serta rasa terima kasih juga diberikan pada direktur film The Unseen Words yang telah berbagi karyanya yang menggerakkan pemikiran pada kita semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s